Kisah Perjalanan Menuju Sekolah Tinggi Agama Islam Siliwangi Garut

Hallo, Para Pembaca yang mudah-mudahan sedang dalam keadaan bahagia :)


Perkenalkan nama saya Asep Ridwan Alawi Asli orang Tanjungsari-Sumedang. Sedikit berbagi cerita nih tentang kisah perjalanan saya kenapa bisa berkuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Siliwangi Garut (STAIS).

Okees,,,,Semoga kalian bisa menikmati bacaannya apalagi sambil minum susu hangat di pagi hari :D.....

 Pada awal lulus sekolah Madrasah Aliyah pada tahun 2014 saya tidak langsung melanjutkan ke perkuliahan melainkan saya langsung ikut teman saya bekerja di Bandung menjadi Chef Helper di sebuah restaurant masakan jepang Ginza.
Alasan saya bekerja sebetulnya cukup konyol, yaitu hanya karena saya ingin kuliah tapi harus bawa motor sendiri (tidak bolak balik naik angkutan umum). karena saya pikir waktu itu yang namanya kuliah pasti butuh kendaraan pribadi untuk tugas dan juga untuk main dengan kawan seperjuangan di kuliahan. Tapi karena memang keluarga bukan dari kalangan berada, yaa saya terpaksa harus bekerja dulu untuk memenuhi keinginan bisa membawa motor ke tempat perkuliahan tersebut.


Setahun tepat saya bekerja di Bandung dan kemudian memutuskan keluar dari pekerjaan tersebut dengan alasan yg tetap sama yaitu berkuliah, yang sebetulnya di awal saya tak ada niatan untuk berkuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Siliwangi Garut (STAIS). Setelah keluar dari pekerjaan ternyata ekonomi keluarga sedang krisis-krisisnya, sehingga saat saya ingin memutuskan untuk kuliah (dimanapun jadi), sayapun berfikir kembali bolak-balik untuk melanjutkan niat saya itu karena bagaimanapun saya tidak ingin menyusahkan orangtua. Pada akhirnya saya coba cari-cari kerja lagi dan dengan berbagai alasan sayapun mentok menjadi ojek pangkalan dan itu saya jalani selama 1 Tahun dari 2015 sampai 2016.


Setelah 1 Tahun saya jadi ojek tiba-tiba ada teman saya yang menawari saya kuliah dengan beasiswa dari awal sampai lulus di tempat kuliahan yang bisa dibilang masih baru dan bahkan masih menginduk ke tempat universitas lainnya di Depok. Tempat perkuliahan yg ditawari teman saya itu berlokasi di kota perbatasan Jawa Barat yakni di Kuningan yang berdekatan dengan Cirebon, Jawa Tengah.

 Perkuliahannya berbentuk Yayasan dengan sistem Boarding School karena selain perkuliahan disana juga ada sekolah SMP sampai SMA yang pada saat saya masuk kesana jumlah siswanya keseluruhan kurang lebih sekitar 3000 jiwa, menakjubkan memang.
Dengan melihat beasiswa tersebut akhirnya sayapun ikut tawaran mereka yang kebetulan kawan saya itu sudah satu tahun lebih dulu berkuliah disana meskipun saat di Madrasah Aliyah (SMA) kami satu tingkat dan bahkan satu kelas.
2,5 Tahun saya berkuliah disana dengan segala problematika yang saya temui. selama kurun waktu tersebut 2 jurusan yang saya tempuh yaitu Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan juga Akhwalus Syakhsiyah (Hukum Syariah). Jika diceritakan kenapa dalam 2,5 tahun itu bisa mengambil 2 jurusan akan terlalu panjang, mungkin di episode berikutnya saya akan tulis buat kalian :D. Tapi yang jelas bukan sesuatu yang hebat dan justru 2 jurusan itu menjadi salah satu faktor kenapa saya berhenti di tengah jalan pada waktu itu.


Banyak hal yang terjadi di kampus tempat saya berkuliah pada saat itu. Gesekan dengan kawan sekelas, adu argumen dengan para dosen karena ajaran yang diberikan ternyata paham yang dibawa dari kelompok yang saya anggap itu menyimpang yakni paham "Wahabi", sehingga sering kali saya berdebat tentang sebuah dalil yang diajarkan pada saat itu. Selain itu juga saya cukup sering beradu argumen dengan pihak kemahasiswaan yang ada di lembaga tersebut karena aturan mahasiswa yang semakin kesini semakin diperketat ruang geraknya. Hingga akhirnya muncullah dalam pikiran saya "tugas banyak, tapi ruang gerak dipersempit, bagaimana cara mahasiswa bergerak yang mana disisi lain mempunyai tuntutan harus mempunyai wawasan yang luas". Akhirnya dengan berbekal keberanian saya mengajukan protes ke pihak kemahasiswaan bahkan ke pihak rektor untuk bisa merubah sistem tersebut. Tapi pada akhirnya dengan segala keterbatasan yang ada, protes saya pun tertolak dengan berbagai alasan dari pihak lembaga.

Singkat cerita, akhirnya saya pun memutuskan untuk keluar dari kampus tersebut dengan tekad hati "saya tidak ingin memiliki kertas ijazah yang bodong yakni kertas yang hanya berisikan gelar tapi tidak memiliki wawasan apapun", itu terjadi pada tahun 2018 akhir.


Karena pembukaan pendaftaran kuliah itu sekitar di bulan Juni - September, akhirnya selama nunggu waktu tersebut saya kembali menjadi ojek pangkalan. Karena bagaimanapun dari semenjak lulus Sekolah Aliyah (SMA) tekad untuk berkuliah cukup kuat, jadi meskipun banyak permasalahan yang saya hadapi keinginan tersebut masih tetap ada.
Pada awalnya saya ingin berkuliah di UIN Bandung karena sudah banyak teman sekolah dulu yang berkuliah disana, Tapi setelah dipikir-pikir mengenai biaya hidupnya ada kehawatiran saya tidak mampu menanggung biaya tersebut. mungkin untuk biaya kuliahnya karena berstatus negeri jadi masih terjangkau, tapi dengan melihat gaya hidup mahasiswanya ada kehawatiran saya terbawa oleh mereka yg memang orang berada dan akhirnya biaya hidup yang harus saya tanggung jadi lebih besar dibanding biaya perkuliahannya.


Akhirnya, dengan berbagai penawaran tempat kuliah yang ada termasuk STAIS Garut yang direkomendasikan oleh Kaka perempuan saya yang kebetulan ia juga lulusan dari sana, saya pun memilih STAIS - Garut untuk melanjutkan pencarian Ilmu guna menambah lagi wawasan yang saya butuhkan untuk bekal kelak bermasyarakat.


Alasan saya memilih STAIS-Garut karena biaya nya yang cukup terkangkau dan yang lebih penting kabar yang saya dengar pada saat itu kalau di STAIS jika ada permasalahan dengan biaya, kita tetap bisa melanjutkan perkuliahannya dengan syarat tetap di akhir harus melunasi semuanya.


Pada tahun 2019, akhirnya saya pun menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam Siliwangi Garut sampai saat ini 2021saya masih menempuh jenjang perkuliahan ini. Dengan segala kekecewaan yang saya rasakan saat masuk di STAIS-Garut ini karena banyak ekpektasi yang tidak nyata, disini saya akan mencoba untuk bertahan sampai akhir dan lulus membawa segala pengetahuan yang saya dapati dari perkuliahan ini.
Itulah kisah perjalanan saya untuk bisa berkuliah di STAIS-Garut. Berawal dari ketidak-sengajaan dan berakhir di tempat yang sudah ditakdirkan.

Komentar